Monday, 4 November 2013

Upacara Nyadran



DESYA TRI MARHAENDA
13010110130054
SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS DIPONEGORO

Sedekah laut atau yang dikenal dengan sebutan Nyadran di daerah-daerah pesisir sering dilaksanakan oleh masyarakat setempat, khususnya yang bermatapencarian sebagai nelayan, sebagai wujud syukur atas apa yang telah dilimpahkan oleh Yang Maha Kuasa. Misalnya di daerah pesisir Kendal, terutama pada saat bulan Suro Jumat Kliwon.
Laut merupakan wadah atau tempat yang digunakan para nelayan untuk mencari nafkah dan sumber penghidupan. Dalam kehidupannya, berprofesi sebagai nelayan tidaklah selalu lancar. Kadang nelayan dihadapkan pada dengan berbagai rintangan seperti badai, angin topan, dan cuaca-cuaca buruk lainnya. Banyak pula nelayan yang pulang dengan tangan kosong alias tidak membawa hasil sama sekali. Ada pula nelayan yang meninggal ketika melaut.
Oleh karena hal tersebut, upacara nyadran ini merupakan proses interaksi anata masyarakat setempat dengan alam. Tradisi rutin yang digelar secara turun temurun ini dipercaya warga bisa menghindarkan keluarga mereka dari bencana laut, seperti banjir rob dan gelombang tinggi, yang setiap tahun mengancam keselamatan para nelayan, terutama yang bermukim di sepanjang pesisir pantai.
Biasanya pelaksanaan nyadran berbeda-beda di beberapa daerah pesisir Kendal. Dan perayaannya pun menggunakan bermacam-macam cara, diantaranya dengan arak-arakan, pengorbanan, atau dengan berbagai prosesi upacara adat selama beberapa malam. Tetapi selalu berakhir dengan cara yang sama, yaitu melarung sesaji ke tengah laut.
Persembahan yang akan digunakan dalam prosesi nyadran biasanya adalah berupa kepala dan kaki kerbau, ambengan atau tumpeng, kembang tujuh rupa, dan ubarampe atau jajanan pasar.
Demikian sebagian rangkuman yang saya tulis berdasarkan pembahasan Prof. Dr. Mudjahirin Thohir, tanggal 19 November 2012 mengenai upacara nyadran.

ISLAM PESISIRAN DAN TRADISI SETEMPAT




Islam datang ke Nusantara melalui pesisir dan kemudian masuk ke pedalaman. Itulah sebabnya ada anggapan bahwa Islam pesisir itu lebih dekat dengan Islam genuine yang disebabkan oleh adanya kontak pertama dengan pembawa islam. Meskipun Islam yang datang ke wilayah pesisir, sesungguhnya sudah merupakan Islam hasil konstruksi pembawanya, sehingga Islam yang pertama datang adalah Islam yang tidak murni. Terlepas dari teori kedatangan Islam ke Nusantara dari berbagai sumbernya, namun yang jelas bahwa Islam datang ke Nusantara ketika di wilayah ini sudah terdapat budaya yang berciri khas. Islam yang datang ke Nusantara tentunya adalah Islam yang sudah bersentuhan dengan tradisi pembawanya (da’i), seperti yang datang dari India Selatan tentunya sudah merupakan Islam hasil penafsiran komunitas Islam di India Selatan dimaksud. Demikian pula yang datang dari Gujarat, Colomander, bahkan yang bertradisi Arab sekalipun.
Bukan suatu kebetulan bahwa kebanyakan wali (penyebar Islam) berada di wilayah pesisir. Sepanjang pantai utara Jawa dapat dijumpai makam para wali yang diyakini sebagai penyebar Islam. Di Jawa Timur saja, jika dirunut dari yang tertua ke yang muda, maka didapati makam Syeikh Ibrahim Asmaraqandi di Palang Tuban, Syeikh Malik Ibrahim di Gresik,  makam Sunan Ampel di Surabaya, makam Sunan Bonang di Tuban, makam Sunan Giri di Gresik, makam Sunan Drajad di Lamongan, makam Wali Lanang di Lamongan, makam Raden Santri di Gresik dan makam Syekh Hisyamudin di Lamongan. Makam para wali ini hingga sekarang tetap dijadikan sebagai tempat suci yang ditandai dengan dijadikannya sebagai tempat untuk berziarah dengan berbagai motif dan tujuannya.
Secara geostrategis, bahwa para wali menjadikan daerah pesisir sebagai tempat mukimnya tidak lain adalah karena mudahnya jalur perjalanan dari dan ke tempat lain untuk berdakwah. Bisa dipahami sebab pada waktu itu jalur laut adalah jalur lalu lintas yang dapat menghubungkan antara satu wilayah dengan wilayah lain. Sehingga tidak aneh jika penyebaran Islam oleh Sunan Bonang sampai ke Bawean, Sunan Giri sampai ke daerah Sulawesi, Lombok dan sebagainya. Jalur laut pada masa awal penyebaran Islam, terutama laut Jawa telah mencapai puncaknya. Pada abad ke 12, jalur laut yang menghubungkan Jawa, Sumatera, Malaka dan Cina, sudah terbangun sedemikian rupa. Maka, para wali pun telah melakukan dakwahnya ke seluruh Nusantara melalui pemanfaatan jalur laut tersebut. 
Islam pesisiran Jawa hakikatnya adalah Islam Jawa yang bernuansa khas. Bukan Islam bertradisi Arabyang puris karena pengaruh gerakan Wahabiyah, tetapi juga bukan Islam sinkretis sebagaimana cara pandang Geertz yang dipengaruhi oleh Islam tradisi besar dan tradisi kecil. Islam pesisiran adalah Islam yang telah melampaui dialog panjang dalam rentang sejarah masyarakat dan melampaui pergumulan yang serius untuk menghasilkan Islam yang bercorak khas tersebut. Corak Islam inilah yang disebut sebagai Islam kolaboratif, yaitu Islam hasil konstruksi bersama antara agen dengan masyarakat yang menghasilkan corak Islam yang khas, yakni Islam yang bersentuhan dengan budaya local. Tidak semata-mata islam murni tetapi juga tidak semata-mata Jawa. Islam pesisir merupakan gabungan dinamis yang saling menerima dan memberi antara Islam dengan budaya local.[1]
Varian Islam pesisir juga didapati di wilayah pesisir utara Jawa. Di pesisir Tuban bagian timur –tepatnya di Karangagung, Kecamatan Palang—juga didapati corak pengamalan Islam yang puris. Kelompok Muhammadiyah di desa ini cukup dominant dan bahkan jika dibandingkan dengan wilayah Tuban lainnya, maka di desa inilah kekuatan Muhammadiyah bertumpu. Jika pelacakan dilakukan ke arah timur di pesisir utara Lamongan, maka geliat Islam murni juga semakin nampak. Di sepanjang pesisir utara Lamongan –kecamatan Brondong terus ke timur sampai Gresik sebelah barat, maka dapat dijumpai Islam yang bertradisi puris. Meskipun tidak seluruhnya seperti itu, namun memberikan gambaran bahwa corak Islam pesisir, sesungguhnya sangat variatif. Wilayah pesisir Tuban ke barat, tampak didominasi oleh Islam local. Dari Tuban ke barat sampai Demak, corak Islam local masih dominan. Namun demikian juga bukan berarti bahwa di sana sini tidak dijumpai adanya pengamalan Islam yang bercorak murni tersebut.
Pada komunitas pesisir,  ada satu hal yang menarik adalah ketika di suatu wilayah terdapat dua kekuatan hampir seimbang, Islam murni dan Islam lokal, maka terjadilah tarikan ke arah yang lebih Islami terutama yang menyangkut  istilah-istilah, seperti slametan yang bernuansa bukan kesedihan berubah menjadi tasyakuran, misalnya slametan kelahiran, pindah rumah, mendapatkan kenikmatan lainnya, maka ungkapan yang digunakan bukan lagi slametan tetapi syukuran. Upacara memperingati kematian atau dulu disebut manganan kuburan sekarang diubah dengan ungkapan khaul. Nyadran  di Sumur sekarang berubah menjadi sedekah bumi. Upacara petik laut atau babakan di pantai disebut sedakah laut. Upacara babakan untuk menandai datangnya masa panen bagi para nelayan. Dari sisi substansi juga terdapat perubahan. Jika pada masa lalu upacara nyadran di sumur selalu diikuti dengan acara tayuban, maka sekarang dilakukan kegiatan yasinan, tahlilan dan pengajian. Sama halnya dengan upacara sedekah laut, jika dahulu hanya ada acara tayuban, maka sekarang ada kegiatan yasinan, tahlilan dan pengajian. Secara simbolik hal ini menggambarkan bahwa ada pergerakan budaya yang terus berlangsung dan semakin mendekati ke arah tradisi Islam.[2]
Suasana keagamaan yang berbeda tampak pada suatu wilayah yang kecenderungan umum pelakunya adalah kebanyakan penganut NU. Di desa-desa pesisir yang aliran keagamaannnya seperti itu, maka tampak bahwa pengamalan beragamanya cenderung masih stabil, yaitu beragama yang bercorak lokalitas. Jika terjadi perubahan pun kelihatannya sangat lambat. Akan tetapi satu hal yang pasti bahwa upacara-upacara di medan budaya –sumur dan makam—sudah berubah menjadi lebih islami. Hal itu juga tampak dari sederetan upacara ritual yang menampakkan wajah islam secara lebih dominan, meskipun hal itu merupakan penafsiran atau hasil konstruksi yang mempertimbangkan lokalitasnya.
Salah satu tradisi masyarakat islam pesisir adalah tradisi arak-arakan di Desa Paciran Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Tradisi meng-arak ketupat ini, merupakan salah satu kegiatan merayakan lebaran ketupat. Menariknya, tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun lamanya. Dengan berpakaian hidmat, ratusan warga mulai melakukan arak-arakan melintasi jalan raya. Sejumlah nasi tumpeng dan berbagai macam lauk pauk yang menyertainya, di bawa oleh sesepuh warga. Sesampainya di Tanjung Kodok, barang bawa-an peserta arak-arakan di kumpulkan. Acara kemudian di lanjutkan dengan mendengarkan wejangan dari tokoh masyarakat setempat. Sebelum di nikmati, aneka masakan nasi dalam balutan daun kelapa ini, terlebih dahulu di doakan, agar memperoleh berkah. Dengan di tambah sajian pendamping,seperti sayur opor, pecel dan lodeh, ratusan peserta arak-arakan ini kemudian terlihat saling berebut. Tradisi makan ketupat di pinggir pantai ini juga di maksudkan, agar tangkapan ikan warga desa yang sebagian besar nelayan ini, bisa semakin berlimpah. Di samping itu, kegiatan ini di maksudkan guna mempererat hubungan silaturrahim antar sesama.
Menurut warga, tradisi arak-arakan ketupat ini, sudah berlangsung ratusan tahun, sejak masuknya islam ke wilayah lamongan sekitar abad ke 15 yang di bawa sunan drajat. Warga setempat, meng-istilahkan lebaran ketupat ini dengan kupatan, yang berarti mengaku lepat atau mengakui kesalahan. Di harapkan, dengan tradisi ini, warga bisa menghayati makna kebersamaan yang tercermin dalam kekompakan selama meng-arak ketupat. Bagi masyarakat muslim di lamongan, tradisi hari raya ketupat, dilaksanakan setelah melaksanakan puasa sunnah 6 hari lamanya pasca Idul Fitri. Meski hanya merupakan tradisi lokal, namun, warga mengikuti prosesi arak-arakan ini dengan penuh khidmat.

Sumber:
Niels Mulder, Agama, Hidup Sehari-hari dan Perubahan Budaya. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999)
Nur Syam, “Islam Pesisir’ (Jogyakarta:  LKIS, 2005)





Friday, 21 September 2012

Puisi Lama


1. MANTRA
Mantra adalah merupakan puisi tua, keberadaannya dalam masyarakat Melayu pada mulanya bukan sebagai karya sastra, melainkan lebih banyak berkaitan dengan adat dan kepercayaan.
Contoh:
Assalammu’alaikum putri satulung besar
Yang beralun berilir simayang
Mari kecil, kemari
Aku menyanggul rambutmu
Aku membawa sadap gading
Akan membasuh mukam
2.GURINDAM
Gurindam adalah puisi lama yang berasal dari Tamil (India)
CIRI-CIRI GURINDAM:
a. Sajak akhir berirama a – a ; b – b; c – c dst.
b. Berasal dari Tamil (India)
c. Isinya merupakan nasihat yang cukup jelas yakni menjelaskan atau menampilkan suatui sebab akibat.
Contoh :
Kurang pikir kurang siasat (a)
Tentu dirimu akan tersesat (a)
Barang siapa tinggalkan sembahyang ( b )
Bagai rumah tiada bertiang ( b )
Jika suami tiada berhati lurus ( c )
Istri pun kelak menjadi kurus ( c )
3. SYAIR
Syair adalah puisi lama yang berasal dari Arab.
CIRI – CIRI SYAIR :
a. Setiap bait terdiri dari 4 baris
b. Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
c. Bersajak a – a – a – a
d. Isi semua tidak ada sampiran
e. Berasal dari Arab
Contoh :
Pada zaman dahulu kala (a)
Tersebutlah sebuah cerita (a)
Sebuah negeri yang aman sentosa (a)
Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)
Negeri bernama Pasir Luhur (a)
Tanahnya luas lagi subur (a)
Rakyat teratur hidupnya makmur (a)
Rukun raharja tiada terukur (a)
Raja bernama Darmalaksana (a)
Tampan rupawan elok parasnya (a)
Adil dan jujur penuh wibawa (a)
Gagah perkasa tiada tandingnya (a)
4.PANTUN
Pantun adalah puisi Melayu asli yang cukup mengakar dan membudaya dalam masyarakat.
CIRI – CIRI PANTUN :
1. Setiap bait terdiri 4 baris
2. Baris 1 dan 2 sebagai sampiran
3. Baris 3 dan 4 merupakan isi
4. Bersajak a – b – a – b
5. Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
6. Berasal dari Melayu (Indonesia)
Contoh :
Ada pepaya ada mentimun (a)
Ada mangga ada salak (b)
Daripada duduk melamun (a)
Mari kita membaca sajak (b)
MACAM-MACAM PANTUN
1. DILIHAT DARI BENTUKNYA
a. PANTUN BIASA
Pantun biasa sering juga disebut pantun saja.
Contoh :
Kalau ada jarum patah
Jangan dimasukkan ke dalam peti
Kalau ada kataku yang salah
Jangan dimasukan ke dalam hati
2. SELOKA (PANTUN BERKAIT)
Seloka adalah pantun berkait yang tidak cukup dengan satu bait saja sebab pantun berkait merupakan jalinan atas beberapa bait.
CIRI-CIRI SELOKA:
a. Baris kedua dan keempat pada bait pertama dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait kedua.
b. Baris kedua dan keempat pada bait kedua dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait ketiga
c. Dan seterusnya
Contoh :
Lurus jalan ke Payakumbuh,
Kayu jati bertimbal jalan
Di mana hati tak kan rusuh,
Ibu mati bapak berjalan
Kayu jati bertimbal jalan,
Turun angin patahlah dahan
Ibu mati bapak berjalan,
Ke mana untung diserahkan
3. TALIBUN
Talibun adalah pantun jumlah barisnya lebih dari empat baris, tetapi harus genap misalnya 6, 8, 10 dan seterusnya.
Jika satu bait berisi enam baris, susunannya tiga sampiran dan tiga isi.
Jika satiu bait berisi delapan baris, susunannya empat sampiran dan empat isi.
Jadi :
Apabila enam baris sajaknya a – b – c – a – b – c.
Bila terdiri dari delapan baris, sajaknya a – b – c – d – a – b – c – d
Contoh :
Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak pun beli sampiran
Ikan panjang beli dahulu
Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanak pun cari isi
Induk semang cari dahulu
4. PANTUN KILAT ( KARMINA )
CIRI-CIRINYA :
a. Setiap bait terdiri dari 2 baris
b. Baris pertama merupakan sampiran
c. Baris kedua merupakan isi
d. Bersajak a – a
e. Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
Contoh :
Dahulu parang, sekarang besi (a)
Dahulu sayang sekarang benci (a)
2. DILIHAT DARI ISINYA
2.1. PANTUN ANAK-ANAK
Contoh :
Elok rupanya si kumbang jati
Dibawa itik pulang petang
Tidak terkata besar hati
Melihat ibu sudah datang
2.2. PANTUN ORANG MUDA
Contoh :
Tanam melati di rama-rama
Ubur-ubur sampingan dua
Sehidup semati kita bersama
Satu kubur kelak berdua
2.3. PANTUN ORANG TUA
Contoh :
Asam kandis asam gelugur
Kedua asam riang-riang
Menangis mayat di pintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang
2.4. PANTUN JENAKA
Contoh :
Elok rupanya pohon belimbing
Tumbuh dekat pohon mangga
Elok rupanya berbini sumbing
Biar marah tertawa juga
2.5. PANTUN TEKA-TEKI
Contoh :
Kalau puan, puan cemara
Ambil gelas di dalam peti
Kalau tuan bijak laksana
Binatang apa tanduk di kaki

GURINDAM XII
Karya Raja Ali Haji
Gurindam I

Ini gurindam pasal yang pertama:
Barang siapa tiada memegang agama,sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama. Barang siapa mengenal yang empat,maka ia itulah orang ma’rifat Barang siapa mengenal Allah,suruh dan tegahnya tiada ia menyalah. Barang siapa mengenal diri,maka telah mengenal akan Tuhan yang bahari. Barang siapa mengenal dunia,tahulah ia barang yang terpedaya. Barang siapa mengenal akhirat,tahulah ia dunia melarat.
Gurindam 12 oleh Raja Ali Haji (Pahlawan Nasional), Tanjung Pinang
Gurindam adalah satu bentuk puisi Melayu lama yang terdiri dari dua bait, tiap bait terdiri dari 2 baris kalimat dengan rima yang sama, yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Gurindam ini dibawa oleh orang Hindu atau pengaruh sastra Hindu. Gurindam berasal dari bahasa Tamil (India) yaitu kirindam yang berarti mula-mula amsal, perumpamaan. Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian dan baris kedua berisikan jawaban nya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi.

Tuesday, 3 January 2012

PROSES MORFOLOGIS

3.PROSES MORFOLOGIS

3.1 Pengertian Proses Morfologis Proses morfologis ialah proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya (Ramlan, 1985). Lebih lanjut Ramlan mengatakan bahwa dalam bahasa Indonesia terdapat tiga proses morfologis, yaitu
(1) Afiksasi (proses pembubuhan afiks), (2) proses pengulangan, dan (3) proses pemajemukan.
Sedangkan Kridalaksana (1996), mengatakan bahwa proses morfologis meliputi
(1) Afiksasi, (2) reduplikasi, (3) komposisi, (4) abreviasi, (5) derivasi zero, (6) derevasi balik, dan (7) metanalisis.

3.2 Afiksasi (Proses Pembubuhan Afiks) Afiksasi adalah proses mengubah leksem mejadi kata kompleks. Dalam proses ini, leksem (1) berubah bentuknya, (2) menjadi kategori kelas kata tertentu, (3) berubah maknanya. Ramlan (1985) bahwa afiksasi merupakan proses pembubuhan afiks pada suatu satuan, baik satuan berupa bentuk tunggal maupun bentuk kompleks. Kata yang dibentuk dari satuan lain (kata lain) pada umumnya mengalami tambahan bentuk pada kata dasarnya. Kata seperti berjalan, bersepeda, bertiga, ancaman, gerigi, berdatangan terdiri atas enam bentuk dasar jalan, sepeda, tiga, ancam, gigi, dan datang, yang masing-masing dilekati bentuk yang berwujud ber-, ber-, ber-, -an, -er-, ber-an. Bentuk (morfem) terikat yang dipakai untuk menurunkan kata dinamakan afiks atau imbuhan. Atau dengan menggunakan konsep Ramlan (1985), afiks adalah suatu satuan gramatik terikat yang di dalam suatu kata merupakan unsur yang bukan kata dan bukan pokok kata, yang memiliki kesanggupan melekat pada satuan-satuan lain untuk membentuk kata baru. Afiks yang dilekatkan di bagian muka suatu bentuk dasar disebut prefiks, seperti ber- pada kata berjalan, bersepeda, dan bertiga. Satuan atau morfem terikat, sperti ber-, meng,-, peng-, per- adalah prefiks atau awalan. Apabila satuan gramatik (morfem terikat), dilekatkan dibagian belakang kata, maka namanya sufiks atau akhiran, seperti –an pada kata ancaman, -kan pada kata dapatkan, -i pada kata dinamai. Infiks atau sisipan adalah afiks yang diselipkan di tengah bentuk dasar. Satuan seperti -er- dan -el- pada kata gerigi dan geletar adalah infiks atau sisipan. Gabungan prefiks dan sufiks yang membentuk suatu satuan disebut konfiks. Satuan berdatangan, misalnya, dibentuk dari bentuk dasar datang dan konfiks ber-an yang secara serentak diimbuhkan. Sementara itu, Kridalaksana (1989) mengklasifikasikan dan menganalisis atas: (1) prefiks, (2) sufiks, (3) infiks, (4) konfiks, (5) simulfiks, (6) superfiks, (7) interfiks, (8) transfiks, dan (9) kombinasi afiks.

3.3 Proses Pengulangan (Reduplikasi) Pengulangan satuan gramatikal, baik seluruhnya maupun sebagian, baik dengan variasi fonem maupun tidak, disebut proses pengulangan (reduplikasi). Hasil pengulangan itu disebut kata ulang, sedangkan satuan yang diulang disebut bentuk dasar. Ramlan (1985) mengemukakan beberapa ciri proses pengulangan, yaitu (1) pengulangan pada umumnya tidak mengubah kategori kelas kata (golongan kata), (2) proses pengulangan dapat dikembalikan pada bentuk dasarnya, (3) bentuk dasar dalam proses pengulangan selalu berupa satuan yang terdapat dalam penggunaan bahasa. Bentuk pengulangan berjalan-jalan, bentuk dasarnya adalah berjalan, berpacar-pacaran bentuk dasarnya adalah berpacaran, rumah-rumah bentuk dasarnya adalah rumah. Satuan-satuan kemerah-merahan (adjektiva) bentuk dasarnya merah (adjektiva); rumah-rumah (nomina) bentuk dasarnya adalah rumah (nomina); kereta-keretaan (nominal) bentuk dasarnya adalah kereta (nomina); berlari-lari (verba) bentuk dasarnya adalah berlari (nomina). Berdarkan contoh-contoh tersebut dapat dikatakan bahwa bentuk dasar bagi kata ulang yang termasuk kelas kata nomina, berupa kata nomina; bentuk dasar bagi kata ulang yang termasuk kelas kata verba, berupa kata verba; bentuk dasar bagi kata ulang yang termasuk kelas kata adjektiva, berupa kata adjektiva. Proses pengulangan dalam bahasa Indonesia dapat diklasifikasikan sebagai berikut. (1) Pengulangan seluruhnya (penuh), yaitu pengulangan seluruh bentuk dasar, tanpa perubahan fonem dan tidak berkombinasi dengan pembubuhan afiks, seperti sepeda-sepeda, buku-buku, kebaikan-kebaikan, rumah-rumah, dan sebagainya; (2) Pengulangan sebagian, yaitu pengulangan sebagian dari bnetuk dasarnya. Di sini bentuk dasar dari kata ulang itu tidak diulang seluruhnya. Hampir semua bentuk dasar yang termasuk pengulangan ini berupa bentuk kompleks, misalnya kata mengambil menjadi mengambil-ambil, melambaikan menjadi melambai-lambaikan, membaca menjadi membaca-baca; (3) Pengulangan yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks, yaitu pengulangan yang mengulang seluruh bentuk dasar dan berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks. Artinya, pengulangan terjadi bersama-sama dengan proses pembubuhan afiks, misalnya kereta-keretaan, mobil-mobilan, kuda-kudaan, dan sebagainya; (4) Penguangan dengan perubahan fonem, misalnya bolak-balik, gerak-gerik, serba serbi, lauk-pauk, sayur mayur, dan sebagainya. Kridalaksana (1996) mengklasifikasi proses pengulangan atas tiga bentuk. Ketiga bentuk pengulangan tersebut sebagaimana diuraikan berikut ini. (1) Proses pengulangan fonologis, yaitu pengulangan yang bersifat fonologis, tidak ada penglangan leksem, seperti dada, pipi, paru-paru, kuku, dan sebagainya; (2) Proses pengulangan morfemis, yaitu pengulangan yang mengalami perubahan makna gramatikal atas leksem yang diulang. Pengulangan morfemis inilah yang menjadi pembicaraan dalam kajian morfologi; dan (3) Proses pengulangan sintaksis, yaitu proses pengulangan yang terjadi atas leksem yang menghasilkan satuan yang berstatus klausa. Jadi, berada di luar cakupan kajian morfologi, seperti satuan jauh-jauh datang juga orang itu, Asam-asam dimakan juga. Di sisi lain Kridalaksana juga membagi proses pengulangan atas: (1) Pengulangan dwipurwa, yaitu pengulangan suku pertama pada leksem pelemahan vokal, seperti tetangga, lelaki, tetamu, sesama, dan sebagainya; (2) Pengulangan dwilingga, yaitu pengulangan leksem, seperti rumah-rumah, makan-makan, pagi-pagi, kuda-kuda, dan sebagainya; (3) Pengulangan dwilingga salin swara, yaitu pengulangan leksem dengan variasi fonem, seperti modar-mandir, pontang-panting, bolak-balik, corat-coret, dan sebagainya; (4) Pengulangan dwiwasana, yaitu pengulangan bagian belakang dari leksem, seperti pertama-tama, perlahan-lahan, sekali-kali, dan sebagainya; dan (5) Pengulangan trilingga, yaitu pengulangan dengan anamatope tiga kali dengan variasi fonem, seperti dag-dig-dug, cas-cis-cus, dar-dir-dor, ngak-ngek-ngok, dan sebagainya.

3.4Pemajemukan (Kompositum) Pemajemukan merupakan pemaduan dua kata atau lebih yang membentuk satu kata. Karena membentuk satu kata, maka maknanya pun satu. Dalam istilah tatabahasa tradisional istilah pemadun lebih dikenal dengan nama pemajemukan. Dalam bahasa Indonesia pemaduan satuan-satuan kata untuk membentuk satu kata sangat produkatif, khusussnya dalam pembentukan istilah-istilah baru. Ramlan (1985) menyatakan bahwa kata majemuk ialah kata yang terdiri dari dua kata atau lebih sebagai unsurnya. Di samping itu, ada juga kata majemuk yang terdiri dari satu kata dan satu pokok kata, sebagai unsurnya, misalnya daya tahan, daya juang, kamar tunggu, kamar kerja, ruang baca, tenaga kerja, kolam renang, jarak tembak, ikat pinggang, dan ada pula yang terdiri dari pokok kata semuanya, seperti lomba lari, jual beli, simpan pinjam, dan masih banyak lagi. Kridalaksana (1996) mengatakan bahwa pemajemukan (komposisi) adalah proses penggabungan dua leksem atau lebih yang membentuk kata. ”Output” proses itu disebut paduan leksem atau kompositum yang menjadi calon kata majemuk. Deskripsi Kridalaksana ini menempatkan kata majemuk sebagai satuan yang berbeda dari frasa. Frasa adalah gabungan kata bukan gabungan leksem. Yang mengolah kata-kata hingga menjadi frasa adalah proses sintaktis, sedangkan kata majemuk merupaka proses morfologis. Lebih lanjut Kridalaksana mendeskripsi perbedaan kata majemuk dan frasa sebagai berikut. (1)Ketaktersisipan; artinya di atara unsur-unsur kata majemuk (kompositum) tidak dapat disisipi apa pun. Sapu tangan, rumah sakit, kursi malas adalah kata majemuk, karena tidak dapat disipi apa pun. Sedangkan anak malas, alat negara, sapu lidi merupakan frasa, karena dapat disisipi partikel dari atau yang atau untuk, menjadi anak yang malas, alat dari negara, dan sapu dari lidi. Satuan kamar mandi kelihatannya sama dengan orang mandi. Keduanya terdiri dari nomina dan verba, tetapi jika kita teliti dengan benar, ternyata kedua satuan itu berbeda. Pada orang mandi kata orang dapat diikuti kata itu, misalnya orang itu mandi, dan kata mandi dapat didahului kata sedang, akan, sudah menjadi orang itu sedang mandi, orang itu akan mandi, orang itu sudah mandi. Dengan kata lain, unsur-unsur dalam orang mandi dapat disisipi atau dipisahkan. Berbeda dengan unsur-unsur dalam kamar mandi yang tidak dapat dipisahkan. Dengan demikian satuan kamar mandi merupakan kata majemuk. (2)Ketakterluasan; artinya unsur-unsur kata majemuk (komsitum), masing-masing tidak dapat diafiksasikan atau dimodifikasikan. Perluasan untuk kata majemuk hanya mungkin untuk semua kompnennya sekaligus. Misalnya, kereta api dapat dimodifikasi menjadi perkeretaapian. (3)Ketidakterbalikan; artinya unsur-unsur kata majemuk (kompositum) tidak dapat dipertukarkan. Gabungan seperti bapak ibu, pulang pergi, dan lebih kurang, tidak digolongan kata majemuk, melainkan frasa koordinatif karena dapat dibalikkan (gabungan kata semacam ini memberi kesempatan kepada penutur untuk memilih mana yang akan didahulukan). Konstruksi seperti hutan belantara, bujuk rayu bukanlah frasa, melainkan kata majemuk.

3.5 Derivasi Zero Derivasi Zero merupakan proses morfologis yang tidak terjadi perubahan bentuk. Jadi dalam derivasi zero ini leksem menjadi kata tunggal, misalnya kata makan, minum, mohon, dan lain-lain.

3.6 Derivasi Balik Derivasi balik merupakan proses morfologis yang inputnya satuan tunggal dan outputnya adalah kata kompleks. Proses pembentukan ini karena bahasawan yang dengan sengaja membentuknya berdasarkan pola-pola yang ada tanpa mengenal unsur-unsurnya. Akibatnya terjadi bentuk yang secara historis tidak diramalkan, misalnya, kata pungkir dalam dipungkiri yang dipakai orang karena mengira bentuk itu merupakan padanan pasif dari kata memungkiri (padahal kata pungkir tidak ada dalam bahasa Indonesia, yang ada adalah mungkir yang berasal dari bahasa Arab). Demikian juga kata ketik dan pengapakan.

3.7 Abreviasi (Pemendekan) Abreviasi (pemendekan) merupakan proses morfologis yang berupa penanggalan satu atau beberapa satuan kata atau kombinasi kata, sehingga membentuk kata baru. Istilah lain untuk abreviasi adalah pemendekan, sedang hasil prosesnya disebut kependekan. Ada beberapa jenis abreviasi, sebagaimana diuraikan berikut ini. (1) Pemenggalan, yaitu proses pemendekan yang mengekalkan salah satu bagian kata atau leksem, seperti Prof. (profesor), Bu (Ibu), Pak (Bapak), dan sebagainya. (2) Kontraksi, yaitu proses pemendekan yang meringkaskan kata atau leksem dasar atau gabungan kata atau leksem dasar, seperti tak (dari tidak), takkan (dari tidak akan), berdikari (dari berdiri di atas kaki sendiri), rudal (dari peluru kendali), dan sebagainya; (3) Akronim, yaitu pembentukan kata melalui penggabungan huruf-huruf awal urutan kata atau bagian tertentu dari kata-kata yang berurutan, misalnya kata raker (rapat kerja), rapim (rapat pimpinan), Polwan (Polisi Wanita), dan sebagainya dan (4) Penyingkatan, yaitu salah satu proses pemendekan berupa huruf atau gabungan huruf, baik yang dieja huruf demi huruf, seperti KKN (Kuliah Kerja Nyata), DKI (daerah Khusus Ibukota), DPR (dewan Perwakilan Rakyat, dsb (dan sebagainya), dll (dan lain-lain). (5) Lambang Huruf, yaitu proses pemendekan yang menghasilkan satu huruf atau lebih yang menggambarkan konsep dasar kuantitas, satuan, atau unsur, seperti Kg. (Kilogram), g (gram), cm (Sentemeter), dan sebagainya. sumber:


http://morfologibahasaindonesia.blogspot.com/