Tuesday, 1 November 2011

Analisis Cerpen Laila Karya Putu Wijaya

A.Sinopsis
Cerpen LAILA mengisahkan tentang kehidupan seorang pembantu rumah tangga yang bekerja pada sebuah keluarga yang disebutkan sebagai keluarga “Tokoh Saya”. Dimana dalam keluarga ini mengalami sekelumit masalah rumah tangga yang dikarenakan takut ditinggal pembantunya berhenti bekerja. Laila adalah si pembantu tersebut yang mengalami KDRT ( Kekerasan Dalam Rumah Tangga) secara fisik maupun non fisik oleh suaminya dari masalah materi hingga poligami. Ia seorang istri dan ibu yang patuh kepada suaminya hingga menerima segala perlakuan kasar dari suaminya dan dipaksa menjadi tulang punggung keluarga. Ia wanita jawa yang menerima keadaan dimana seorang istri harus berbakti, menurut kepada suami walaupun harga diri diinjak – injak. Keadaan tersebut membuat keluarga “tokoh Saya” dimana tempat dia bekerja menjadi gemas melihat keadaan si Laila tanpa berani berbuat apa – apa. Hingga suatu hari istri dari “tokoh Saya” memberikan shock terapi kepada Laila hingga akhirnya Laila dapat mengambil suatu keputusan untuk hidup dan dirinya sendiri juga anaknya dari belenggu suaminya.

B.Sistem Nilai dalam Cerita Rekaan
1.Paham-paham penilaian
a.Penilaian Relativisme
Relativisme adalah paham penilaian yang didasarkan pada tempat dan waktu terbitnya karya sastra (penilaian karya sastra tidak sama di semua tempat dan waktu). Paham ini berkeyakinan bahwa nilai karya sastra melekat pada karya itu sendiri. Bila ada karya sastra yang dianggap bernilai oleh masyarakat di suatu tempat dan periode tertentu, karya sastra tersebut terus dianggap bernilai di jaman dan tempat yang lain (dulu dianggap baik, sekarang harus dipandang baik pula). Paham ini merupakan reaksi terhadap penilaian karya sastra yang menganut paham abslutisme.
b.Penilaian Absolutisme
Absolutisme adalah paham penilaian karya sastra yang didasarkan pada paham-paham di luar sastra seperti: politik, moral, atau ukuran-ukuran tertentu. Dengan kata lain, paham ini menilai karya sastra tidak didasarkan pada hakikat sastra. Sastra yang baik menurut paham ini adalah karya sastra yang memiliki tendensi politis, memiliki nilai moral, dsb. Sehingga paham ini cenderung menilai karya sastra secara dogmatis dan statis. Contoh kritik sastra dengan paham ini adalah kritikus penganut paham humanis baru dan marxis. Di Indonesia, kritik model ini berkembang pada tahun 60-an seperti penganut paham bahwa sastra adalah seni bertendensi (seni untuk seni).
c.Penilaian Pervektivisme
Perspektivisme adalah paham penilaian karya sastra dari berbagai perspektif tempat, waktu, dan sudut pandang sehingga karya sastra bisa dinilai dari waktu terbitnya dan pada masa berikutnya. Paham ini berpendapat bahwa karya sastra bersifat abadi dan historis. Abadi karena memelihara ciri-ciri tertentu, historis karena karya sastra itu melampaui suatu proses yang dapat dirunut jejaknya. Dengan kata lain, karya sastra dapat dibandingkan sepanjang masa berkembang, berubah penuh kemungkinan penilaian. Karya sastra itu strukturnya dinamis melalui penafsirnya sepanjang jaman (berubah menurut tanggapan penafsirnya). Wellek-Warren menganjurkan, hendaknya para kritikus memilih aliran ini dalam menilai karya sastra.
2.Ukuran Penilaian
Penilaian terhadap karya sastra (cerkan) itu seharusnya jangan dinilai berdasarkan ukuran-ukuran di luar sastra, seperti filsafat, ilmu sosial, atau bahkan ukuran dengan ilmu politik, dan sebagainya. Akan tetapi hendaklah dinilai dengan metode sastra yang murni, artinya, apa hakikat dari karya sastra itu sendiri. Untuk mengatasi hal-hal yang tidak diinginkan, hendaknya orang kembali kepada pertimbangan karya sastra berdasarkan hakikat metode sastra itu dengan melihat fungsi karya sastra yang dikemukakan oleh Horace, yaitu dulce et utile (menyenangkan dan berguna). Maksudnya, karya sastra itu dapat memberikan kesenangan dan kegunaan yang berupa keindahan dan pengalaman-pengalaman jiwa yang bernilai tinggi baik secara langsung maupun tidak langsung lewat para penafsirnya.

C.Pembahasan Sistem Penilaian dalam Cerpen “Laila” karya Putu Wijaya
Dalam makalah ini akan dibahas tentang Penilaian Absolutisme dalam cerpen “Laila”
1.Nilai Moral
Dalam cerpen ini nilai moral terkandung dalam dialog tokoh “Saya” dan “Istri Saya”:
Saya bingung.
“kenapa bangsat itu malah mengurus misannya, bukan istrinya?”
“sebab misan Laila itu perempuan!”
“Gila! Istrinya juga perempuan!”
“Tapi perempuan itu lebih muda! Dan Romeo sudah mau menikahi si Neli!”

Disini Romeo (Suami Laila) diceritakan berselingkuh dengan saudara misan Laila yang tinggal satu rumah dengan Laila.
2.Nilai Sosial
Nilai sosila terkandung dalam cerpen ini, yaitu pada saat Laila dibelikan motor baru olaeh majikannya, hal itu membuat iri para pembantu tetangga. Ini bias kita lihat pada kutipan berikut:
Sejak itu Laila masuk kerja mennunggang motor. Mobilitasnya lebih rapih. Dia selalu dating tepat waktu. Anaknya bangga sekali duduk di boncenggannya. Meski para pembantu lain keki, menganggap nasib Laila terlalu bagus, tidak kami pedulikan. Yang penting Laila tetep setia di posnya.



D.Sistem Nilai dalam Masyarakat
Sastra merupakan penggambaran kehidupan yang dituangkan melalui media tulisan. Terdapat hubungan yang erat antara sastra dan kehidupan, karena fungsi sosial sastra adalah bagaimana ia melibatkan dirinya ditengah-tengah kehidupan masyarakat(Semi,1989:56).
Melalui sastra, pola pikir seseorang atau kelompok masyarakat dapat terpengaruh. Karena sastra merupakan salah satu kebudayaan, sedangkan salah satu unsur kebudayaan adalah sebagai sistem nilai. Oleh karena itu, di dalam sebuah karya sastra tentu akan terdapat gambaran-gambaran yang merupakan sistem nilai. Nilai-nilai yang ada itu kemudian dianggap sebagai kaidah yang dipercaya kebenarannya, sehingga pola pikir masyarakat dapat terbentuk melalui karya sastra.

E.Hubungan Nilai dalam Cerita Rekaan dan Nilai dalam Masyarakat
Sastra Sebagai Sumber Nilai Bagi Masyarakat
Terdapat berbagai macam aliran dalam karya sastra, salah satunya adalah aliran realisme. Aliran tersebut memfokuskan karya sastra terhadap apa yang ada di dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu, aliran ini sangat erat hubungannya dengan perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat kita.
Karya sastra yang menggunakan aliran ini memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perubahan sosial bangsa Indonesia, terutama dalam hal pola pikir. Contohnya saja Novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli yang mampu membuka pola pikir masyarakat kita yang sejak zaman dahulu mengenal budaya kawin paksa. Novel tersebut memberikan kesan kepada pembaca bahwa kawin paksa merupakan suatu hal yang negatif. Banyak hal-hal negatif yang muncul akibat proses kawin paksa. Dengan adanya novel tersebut pola pikir masyarakat cenderung berubah. Terutama dalam segi kehidupan berkeluarga. Hal tersebut bisa terjadi tergantung bagaimana kekuatan mempengaruhi yang ada di dalam karya sastra itu sendiri.
Selain novel di atas, Novel Belenggu juga merupakan salah satu novel yang di dalamnya terdapat nilai-nilai yang dapat mempengaruhi pola pikir masyarakat. Melalui novel tersebut, pengarang berusaha menyampaikan pesannya kepada pembaca bahwa di dalam menjalani hubungan kekeluargaan waktu dan perhatian bagi antar anggota keluarga sangat penting. Jika hal demikian tidak bisa terpenuhi, maka perpisahan adalah konsekuensinya. Dengan adanya novel tersebut, pola pikir masyarakat tentu akan terbangun. Masyarakat akan lebih mempertimbangkan nilai-nilai yang ada pada karya tersebut karena karya tersebut mengemukakan alasan dan konsekuensi yang kongkrit dalam kehidupan sehari-hari.
Boulton (lewat Aminuddin, 2000:37) mengungkapkan bahwa karya sastra menyajikan nilai-nilai keindahan serta paparan peristiwa yang mampu memberikan kepuasan batin pembacanya. Di samping itu, sastra juga mengandung pandangan yang berhubungan dengan renungan dan kontemplasi batin, dari masalah agama, filsafat. Politik maupun macam-macam masalah kehidupan lainnya. Kandungan makna yang kompleks dan keindahan dalam karya asastra tergambar lewat media kebahasan atau aspek verbal. Berdasarkan uraian tersebut, dapat dikemukakan bahwa karya sastra mengandung berbagai unsur yang kompleks, yaitu:
1.Unsur keindahan
2.Unsur kontemplatif
3.Media pemaparan
4.Unsur-unsur intrinsik yang menandai eksistensi karya sastra

Cerita rekaan termasuk dalam cerita fiksi. Cerita rekaan adalah pencerminan masyarakat. Sebab, apa yang diucapkan pengarang sebenarnya adalah pengalaman dan keseluruhan pendapatnya tentang hidup, bukan keseluruhan hidup itu sendiri. (Wellek & Warren 1977 : 91).
Di Indonesia misalnya, AS Darta (seorang tokoh lekra) mengatakan bahwa hasil sastra baru dapat dikatakan bernilai juga sepenuhnya bersifat sosial. Padahal nilai sesuatu (termasuk karya sastra) hanya terletak pada fungsinya atau sifat estetiknya saja.
Karya sastra yang dapat dipandang sebagai bayangan kemasyarakatan, karya sastra yang demikian dapat dikatakan sebagai karya sastra yang mendukung masyarakat, mungkin dapat dihubungkan dengan keadaan ekonomi, politik, keamanan, dan sebagainya.
Dalam makalah ini kami akan membahas mengenai sistem nilai dalam cerkan dan hubungan dalam masyarakat dengan sistem sosial budaya. Hubungan karya sastra dengan sosial budaya sangat erat. Sebagai bagian dari budaya, karya sastra mempunyai kaitan dengan segi-segi budaya lainnya, seperti bahasa, agama, bermacam-macam kesenian, sistem yang meliputi sistem nilai dalam masyarakat, tradisi, pola pikir, dan sebagainya.
Hubungan karya sastra dengan sosial budaya lebih jauh dapat kita ketahui dengan mempelajari hubungan nilai dalam karya sastra dengan sistem nilai dalam masyarakat. Nilai dalam karya sastra maksidnya adalah sistem norma yang diberlakukan dalam karya sastra dan sistem nilai dalam masyarakat artinya sistem norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Sebagai bagian dari sistem sosial dan budaya, moral dengan karya sastra juga tidak dapat dipisahkan begitu saja. Ada pendapat yang menyatakan bahwa karya sastra yang baik selelu memberi pean kepaada masyarakat pembaca supaya berbuat baik. Pesan itu dinamakan moral, orang biasa menyebut amanat

No comments:

Post a Comment

Post a Comment