Monday 4 November 2013

Upacara Nyadran



DESYA TRI MARHAENDA
13010110130054
SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS DIPONEGORO

Sedekah laut atau yang dikenal dengan sebutan Nyadran di daerah-daerah pesisir sering dilaksanakan oleh masyarakat setempat, khususnya yang bermatapencarian sebagai nelayan, sebagai wujud syukur atas apa yang telah dilimpahkan oleh Yang Maha Kuasa. Misalnya di daerah pesisir Kendal, terutama pada saat bulan Suro Jumat Kliwon.
Laut merupakan wadah atau tempat yang digunakan para nelayan untuk mencari nafkah dan sumber penghidupan. Dalam kehidupannya, berprofesi sebagai nelayan tidaklah selalu lancar. Kadang nelayan dihadapkan pada dengan berbagai rintangan seperti badai, angin topan, dan cuaca-cuaca buruk lainnya. Banyak pula nelayan yang pulang dengan tangan kosong alias tidak membawa hasil sama sekali. Ada pula nelayan yang meninggal ketika melaut.
Oleh karena hal tersebut, upacara nyadran ini merupakan proses interaksi anata masyarakat setempat dengan alam. Tradisi rutin yang digelar secara turun temurun ini dipercaya warga bisa menghindarkan keluarga mereka dari bencana laut, seperti banjir rob dan gelombang tinggi, yang setiap tahun mengancam keselamatan para nelayan, terutama yang bermukim di sepanjang pesisir pantai.
Biasanya pelaksanaan nyadran berbeda-beda di beberapa daerah pesisir Kendal. Dan perayaannya pun menggunakan bermacam-macam cara, diantaranya dengan arak-arakan, pengorbanan, atau dengan berbagai prosesi upacara adat selama beberapa malam. Tetapi selalu berakhir dengan cara yang sama, yaitu melarung sesaji ke tengah laut.
Persembahan yang akan digunakan dalam prosesi nyadran biasanya adalah berupa kepala dan kaki kerbau, ambengan atau tumpeng, kembang tujuh rupa, dan ubarampe atau jajanan pasar.
Demikian sebagian rangkuman yang saya tulis berdasarkan pembahasan Prof. Dr. Mudjahirin Thohir, tanggal 19 November 2012 mengenai upacara nyadran.

No comments:

Post a Comment